Momen di Hari Hujan
Namaku May dan aku mengalami perjalanan hidup yang sangat unik bagiku karena segala sesuatunya terjadi hanya dalam 1 hari yang basah. Semuanya bermula dari kejadian 5 tahun yang lalu saat aku masih di tahun ke-2-ku di universitas.
Hari itu hujan lebat sekali ketika saatnya aku pulang dari kampus. Karena malas pulang, maka kuputuskan untuk duduk-duduk dulu di kafetaria yang letaknya di sebelah kampusku. Sambil minum lemon tea, aku menyapa orang-orang yang kukenal di sana. Lalu tiba-tiba ada seorang senior yang datang menghampiriku, ia temanku. Setelah berbasa-basi sebentar, ia lalu memperkenalkan temannya yang ternyata adalah cowok paling populer di kampus. Luar biasa senangnya perasaanku waktu itu. Sejak saat itu, kami pun menjadi dekat dan sering bicara lewat telepon dan pergi bareng. Sampai suatu hari yang cukup mendung, aku baru pulang dari mengerjakan proyek bersama teman-temanku dan lelahnya bukan main rasanya. Baru saja aku sampai di kamarku, yang merupakan kamar atap, tiba-tiba ada suara nyanyian seseorang dari luar sana. Karena sedang kelelahan, kubuka jendela kamar dengan kesalnya. Tapi sungguh tak kusangka, ternyata itu dia, cowok paling populer di kampusku yang belakangan ini dekat denganku. Ia berpakaian amat rapi, memainkan gitar, menyanyikan sebuah lagu dan membawa sebuket bunga mawar yang diletakkan di atas motornya. Tiba-tiba ia berteriak dari bawah sana, “May, aku sayang kamu. Kamu bersedia gak jadi pacarku?”. Selesai ia berteriak, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Aku pun dengan wajah memerah segera berlari ke bawah dan tanpa mengambil payung, aku berlari keluar dan memeluknya. Saat itu juga adalah detik pertama dari hubungan pacaran kami dimulai.
5 tahun kemudian, pacarku mengajakku tunangan. Kami mengadakan pesta kebun untuk merayakannya dengan dimandikan oleh cahaya lilin, sungguh romantis kalau mengingatnya. Banyak teman-teman SMU, kuliah dan kerja yang diundang juga, selain kerabat dekat. Saat akan memotong kue pertunangan kami, tiba-tiba terdengar suara guntur. “Oh, tidak! Lagi-lagi hujan!” seruku. Kami semua segera berlari masuk ke dalam rumah sebelum hujan turun. Akhirnya semua lilin mati dan kuenya pun basah, aku hampir saja menangis, tapi menyadari itu tunanganku langsung memelukku.
Tibalah saat-saat yang paling kunantikan seumur hidupku, beberapa bulan yang lalu akhirnya ia melamarku dan hari ini adalah hari pemberkatan nikahnya di gereja. Aku sudah mengenakan gaun pengantin yang panjang sekali dan nampak indah padaku. Semua undangan telah datang, aku pun berjalan ke depan altar dengan anggunnya dan dengan perasaan bangga. Tapi kemudian, semuanya nampak seperti bencana bagiku. 1 jam kutunggu kedatangan pengantin pria, tapi ia tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Berbagai macam pikiran yang tidak-tidak mulai menghantuiku. Akhirnya 15 menit kemudian ia datang, tapi pakaiannya sungguh tidak formil. Lalu aku berlari mendekatinya, namun tiba-tiba langkahku terhenti, sebab di ambang pintu yang terbuka itu ia berseru, “May, maaf, aku tidak dapat menikahimu.” Saat itu juga terlihat ada petir menyambar di luar gereja dan hujan pun mulai turun. Aku sudah mulai lelah dengan melihat turunnya hujan. Ia pun melanjutkan, “Sebenarnya aku dipaksa untuk melamarmu oleh orang tuaku, sebab sejak 1 tahun yang lalu aku mulai mencintai gadis lain. Maafkan aku, May! Aku yakin kamu akan menemukan pria lain yang lebih layak daripada aku.” Lalu ia berlari keluar begitu saja, aku berlari keluar mencoba mengejarnya. Tapi kemudian tubuhku kaku karena melihat ada seorang gadis manis menunggunya di mobil yang baru saja ia masuki. Ia membawa mobilnya pergi dan aku seperti orang bodoh di bawah siraman air hujan. Kudengar orang-orang di dalam gereja memanggilku untuk segera kembali, tapi kuacuhkan semuanya itu. Aku duduk di atas kursi taman di halaman gereja sambil menangis dan mendinginkan kepalaku di bawah dinginnya air hujan.
Tiba-tiba ada seorang laki-laki berlari keluar menghampiriku, aku sama sekali tidak mengenalnya. Ia lalu menutupi kepalaku dengan jas hitamnya dan membawaku masuk sambil merengkuhkan tangannya yang kokoh di pundakku yang rapuh. Aku merasa sangat kesal dan sedih, serta merasa malu dengan seluruh undangan yang hadir. Akhirnya hari menyedihkan itu pun berakhir dengan air mata.
Tapi sejak saat itu, aku jadi dekat dengan pria yang menolongku dalam hujan itu. Ia terus menghiburku, membantuku melupakan apa yang telah terjadi dan membuat aku menjadi ceria kembali. 4 tahun kemudian, tibalah hari perikahan kami. Aku menjadi deg-deg-an dan takut semuanya akan terulang kembali. Ditambah lagi dengan turunnya hujan di luar gereja dan sudah 10 menit ia terlambat. Aku sudah akan menangis, tubuhku terasa lemas, tapi ibuku terus menenangkanku. 5 menit kemudian, pintu gereja terbuka keras dan aku semakin deg-deg-an, napasku seperti tertahan sebentar saat ia menyerukan, “Semuanya, maaf! Tadi ada kemacetan di jalan. Upacara akan segera dimulai!” Lega rasanya dapat menghembuskan seluruh napas yang tertahan tadi dan senyum pun tersungging manis di wajah seluruh orang di dalam gereja pada hari itu.
Hari itu hujan lebat sekali ketika saatnya aku pulang dari kampus. Karena malas pulang, maka kuputuskan untuk duduk-duduk dulu di kafetaria yang letaknya di sebelah kampusku. Sambil minum lemon tea, aku menyapa orang-orang yang kukenal di sana. Lalu tiba-tiba ada seorang senior yang datang menghampiriku, ia temanku. Setelah berbasa-basi sebentar, ia lalu memperkenalkan temannya yang ternyata adalah cowok paling populer di kampus. Luar biasa senangnya perasaanku waktu itu. Sejak saat itu, kami pun menjadi dekat dan sering bicara lewat telepon dan pergi bareng. Sampai suatu hari yang cukup mendung, aku baru pulang dari mengerjakan proyek bersama teman-temanku dan lelahnya bukan main rasanya. Baru saja aku sampai di kamarku, yang merupakan kamar atap, tiba-tiba ada suara nyanyian seseorang dari luar sana. Karena sedang kelelahan, kubuka jendela kamar dengan kesalnya. Tapi sungguh tak kusangka, ternyata itu dia, cowok paling populer di kampusku yang belakangan ini dekat denganku. Ia berpakaian amat rapi, memainkan gitar, menyanyikan sebuah lagu dan membawa sebuket bunga mawar yang diletakkan di atas motornya. Tiba-tiba ia berteriak dari bawah sana, “May, aku sayang kamu. Kamu bersedia gak jadi pacarku?”. Selesai ia berteriak, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Aku pun dengan wajah memerah segera berlari ke bawah dan tanpa mengambil payung, aku berlari keluar dan memeluknya. Saat itu juga adalah detik pertama dari hubungan pacaran kami dimulai.
5 tahun kemudian, pacarku mengajakku tunangan. Kami mengadakan pesta kebun untuk merayakannya dengan dimandikan oleh cahaya lilin, sungguh romantis kalau mengingatnya. Banyak teman-teman SMU, kuliah dan kerja yang diundang juga, selain kerabat dekat. Saat akan memotong kue pertunangan kami, tiba-tiba terdengar suara guntur. “Oh, tidak! Lagi-lagi hujan!” seruku. Kami semua segera berlari masuk ke dalam rumah sebelum hujan turun. Akhirnya semua lilin mati dan kuenya pun basah, aku hampir saja menangis, tapi menyadari itu tunanganku langsung memelukku.
Tibalah saat-saat yang paling kunantikan seumur hidupku, beberapa bulan yang lalu akhirnya ia melamarku dan hari ini adalah hari pemberkatan nikahnya di gereja. Aku sudah mengenakan gaun pengantin yang panjang sekali dan nampak indah padaku. Semua undangan telah datang, aku pun berjalan ke depan altar dengan anggunnya dan dengan perasaan bangga. Tapi kemudian, semuanya nampak seperti bencana bagiku. 1 jam kutunggu kedatangan pengantin pria, tapi ia tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Berbagai macam pikiran yang tidak-tidak mulai menghantuiku. Akhirnya 15 menit kemudian ia datang, tapi pakaiannya sungguh tidak formil. Lalu aku berlari mendekatinya, namun tiba-tiba langkahku terhenti, sebab di ambang pintu yang terbuka itu ia berseru, “May, maaf, aku tidak dapat menikahimu.” Saat itu juga terlihat ada petir menyambar di luar gereja dan hujan pun mulai turun. Aku sudah mulai lelah dengan melihat turunnya hujan. Ia pun melanjutkan, “Sebenarnya aku dipaksa untuk melamarmu oleh orang tuaku, sebab sejak 1 tahun yang lalu aku mulai mencintai gadis lain. Maafkan aku, May! Aku yakin kamu akan menemukan pria lain yang lebih layak daripada aku.” Lalu ia berlari keluar begitu saja, aku berlari keluar mencoba mengejarnya. Tapi kemudian tubuhku kaku karena melihat ada seorang gadis manis menunggunya di mobil yang baru saja ia masuki. Ia membawa mobilnya pergi dan aku seperti orang bodoh di bawah siraman air hujan. Kudengar orang-orang di dalam gereja memanggilku untuk segera kembali, tapi kuacuhkan semuanya itu. Aku duduk di atas kursi taman di halaman gereja sambil menangis dan mendinginkan kepalaku di bawah dinginnya air hujan.
Tiba-tiba ada seorang laki-laki berlari keluar menghampiriku, aku sama sekali tidak mengenalnya. Ia lalu menutupi kepalaku dengan jas hitamnya dan membawaku masuk sambil merengkuhkan tangannya yang kokoh di pundakku yang rapuh. Aku merasa sangat kesal dan sedih, serta merasa malu dengan seluruh undangan yang hadir. Akhirnya hari menyedihkan itu pun berakhir dengan air mata.
Tapi sejak saat itu, aku jadi dekat dengan pria yang menolongku dalam hujan itu. Ia terus menghiburku, membantuku melupakan apa yang telah terjadi dan membuat aku menjadi ceria kembali. 4 tahun kemudian, tibalah hari perikahan kami. Aku menjadi deg-deg-an dan takut semuanya akan terulang kembali. Ditambah lagi dengan turunnya hujan di luar gereja dan sudah 10 menit ia terlambat. Aku sudah akan menangis, tubuhku terasa lemas, tapi ibuku terus menenangkanku. 5 menit kemudian, pintu gereja terbuka keras dan aku semakin deg-deg-an, napasku seperti tertahan sebentar saat ia menyerukan, “Semuanya, maaf! Tadi ada kemacetan di jalan. Upacara akan segera dimulai!” Lega rasanya dapat menghembuskan seluruh napas yang tertahan tadi dan senyum pun tersungging manis di wajah seluruh orang di dalam gereja pada hari itu.
The End

2 Comments:
Huehehehe ternyata pingu punya bakat terpendam juga ya.... ah seneng deh nemu yang hobinya sama....
Komentar 1: Jiehhhh pinguuuu... dinyanyiin di bawah ujan neh...
Komentar 2: arghhh PEDIH!!! Kok dia gitu seh, maen tinggal aja ama cewe laen????
Komentar 3: oh... hepi ending ya? hehehe boleh juga...
Hehehehe nulis trus ya... ntar gue baca2 lage...
Huehehehe ternyata pingu punya bakat terpendam juga ya.... ah seneng deh nemu yang hobinya sama....
Komentar 1: Jiehhhh pinguuuu... dinyanyiin di bawah ujan neh...
Komentar 2: arghhh PEDIH!!! Kok dia gitu seh, maen tinggal aja ama cewe laen????
Komentar 3: oh... hepi ending ya? hehehe boleh juga...
Hehehehe nulis trus ya... ntar gue baca2 lage...
Post a Comment
<< Home